Dua Sayap Taubat

Dua Sayap Taubat

Majalah Hidayatullah/Dzulqa’dah 1424/Januari 2004

 

Jabir bin Abdullah al Anshary meriwayatkan kisah hidup seorang pemuda Anshar bernama Tsa’ bin Abdurrahman. Sejak masuk Islam ia selalu setia melayani Rasulullah dengan cekatan.

Suatu ketika Rasulullah mengutusnya untuk suatu keperluan. Saat menjalankan tugas tersebut kebetulan ia melewati sebuah rumah milik salah seorang shahabat Anshar. Tiba-tiba secara tak sengaja ia melihat wanita penghuni rumah itu sedang mandi. Serta merta ia ketakutan. Ia sangat khawatir wahyu akan turun kepada Rasulullah berkaitan dengan perbuatannya. Maka ia pun segera berlari menjauhi pusat kota. Ketika sampai di pegunungan yang ada di antara kota Makkah dan Madinah, ia pun mendakinya.

Tentu saja rasulullah merasa kehilangan. Dan hal itu berlangsung selama empat puluh hari. Hingga akhirnya Allah mengutus malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu., “Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu memberikan salam dan berfirman kepadamu yan isinya: bahwa seorang laki-laki dari umatmu berada di antara pegunungan ini dan telah memohon perlindungan kepada-Ku.”

Mendengar wahyu tersebut kemudian beliau bersanda, “Wahai Umar dan Salman, berangkatlah kalian sekarang dan ajaklah kembali Tsa’labah bin Abdurrahman kemari.”

Keduanya pun segera berangkat menyusuri jalan perbukitan yang ada di Madinah, hingga bertemu dengan seorang penggembala bernama Dzufafah. Umar bertanya, “Apakah engkau tahu seorang pemuda bernama Tsa’labah yang tinggal di pegunungan ini?”

“Mungkin yang engkau maksud adalah seorang yang lari dari neraka Jahanam?” jawab Dzufafah.

“Dari mana engkau tahu bahwa dia lari dari neraka Jahanam!” tanya Umar lagi.

“Sebab setiap malam dia keluarkepada kami dari kawasan antara pegunungan itu sambil meletakkan tangan di atas kepalanya sambil berkata, ‘Wahai Allah, mengapa tidak Engkau cabut saja nyawaku dan Engakau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkanku untuk mendapatkan keputusann?’” jawab Dzufafah.

“Itulah orang yang sedang kami cari,” jawab Umar sigap.

Kemudian berangkatlah merekamenemui Tsa’labah. Ternyata benar, ketika hari menjelang malam Tsa’labah keluar. Di sekitar lerang pegunungan mereka menemuinya.Umar kemudian menghampiri dan mendekapnya seraya membujuknya untuk kembali kepada Rasulullah.

“Wahai Umar, adakah Rasulullah mengetahui dosaku? Tanya Tsa’labah.

“Aku tidak tahu, hanya saja kemarin beliau menyebut-nyebut namamu dan kemudian memerintahkan agar aku dan Salman mencarimu,” jawab Umar.

“Aku mohon kau tidak membawaku kepad beliau, kecuali bila beliausedang shalat,” pinta Tsa’labah.

Setelah sampai ke tempat tujuan, Tsa’labah langsung ikut shalat berjamaah bersama Rasulullah. Ketika itulah Rasululah membaca sejumlah ayat Al Quran. Mendegar bacaan beliau, tiba-tiba ia jatuh pingsan.

Setelah salam, Rasulullah bersabda, “Wahai Umar dan Salman, bagaimana dengan Tsa’labah?”

“Itu dia, ya Rasulullah!” jawab mereka sambil menunjuk kea rah sosok tubuh ynag sedang berbaring.

Rasulullah segera berdiri dan menghampirinya. Beliau mengerak-gerakkannya sehingga ia pun siuman kembali.

“Apa yang yang menyebabkan engkau pergi dariku?” tanya beliau lembut.

“Dosaku, wahai Rasulullah!”jawab Tsa’labah.

“Bukankah pernah kutunjukkan kepadamu tentang ayat yangdapat menghapuskan dosa dan kesalahan? Bacalah (QS Al Baqarah201),”tuntun Rasulullah.

“Benar, wahai Rasulullah. Tapi dosaku terlalu besar.”

“Akan tetapi kalam Allah itu jauh lebih besar lagi,” tegas beliau.

Setelah itu beliau memerintahkannya untuk pulang. Setibanya di rumah, ia jatuh sakit selama delapan hari. Mendengar hal itu, Salman menghadao Rasulullah, “Wahai Rasulullah, masihkah engkau memikirkan Tsa’labah? Ia kini sedang sakit keras,” cerita Salman.

“Mari kita bersama-sama menjenguknya,” ajak beliau.

Setibanya di kediaman Tsa’labah, Rasulullah meletakkan kepala Tsa’labah di pangkuan beliau. Tapi, ia berusaha menggeser kepalanya kembali dari pangkuan beliau.

“Mengapa, kamu geser kepalamu dari pangkuanku?” tanya beliau.

“Karena kepala ini penuh dengan dosa,” jawab Tsa’labah murung.

“Apa yang kamu keluhkan?” tanya beliau lagi.

“Seperti ada germutan semut-semut ddiantara tulang, daging dan kulitku,”jawab Tsa’labah menahan sakit.

“Apa yang kamu inginkan?” tanya beliau lagi.

“Ampunan dari Tuhanku,” jawab Tsa’labah lebih mantap.

Kemudian turunlah Jibril menemui Rasulullah, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanku membacakan salam untukmu dan berfirman kepadamu, ‘Andaikata hamba-Ku ini menghadap-Ku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi, Aku akan menyambutnya dengan ampunan-Ku sepenuh bumi pula.”

Rasulullah kemudian memberikan wahyu itu kepada Tsa’labah. Seketika itu juga Tsa’labah terpekik gembira dan tak lama kemudian wafat.

Rasulullah langsung memerintahkan para shahabat untuk segera memendikan dan mengkafani jenazah Tsa’labah.dan ketika selesai menshalatkannya, beliau berjalan sambil berjingkat-jingkat.

Setelah acara pemakaman selesai, slah seorang shahabat bertanya kepada beliau, “Mengapa engkau tadi kami lihat berjalan sambil berjingkat?”

“Demi Dzat yang telah mengutusku dengan benar sebagai Nabi, sungguh aku tidak mampu meletakkan telapak kakiku di atas bumi, karena malaikat yang turut melayat Tsa’labah sangatlah banyak,” jawab beliau.

Sayap pertama:

Takut/khauf terhadap dosa (sekecil apapun)

Sayap kedua:

Optimimis/harapan/raja’ akan ampunan Allah

QS 39:53

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: