Nagabonar dan Nasionalisme

Saya keluar dari keletihan luar biasa yang menghimpit dada Ahad lalu (18/5). Sekonyong-konyong kaki saya melangkah ke bioskop di bilangan Jakarta Selatan. Ada tiga film nasional di sana. Mayoritas film “bergenre” remaja—apalagi kalau bukan mengeksploitasi kehidupannya, tak jauh-jauh dari kisah cinta picisan dengan biduan ayu sebagai daya tarik. Para penonton itu—sebagian besar berpasangan—datang ke gedung bioskop dengan 1001 alasan.

Saya sendiri menggamit niat sederhana: Merayakan kembali tawa ala Nagabonar, tokoh fiktif rekaan Asrul Sani yang mendiami sepotong tanah di Lubuk Pakam, Sumatra Utara sana. Kebetulan Bonaga mengabarkan lewat sepenggal iklan, “Bapakku bukan hanya pandai mencopet, tapi juga Jenderal di medan perang.” Bonaga (dimainkan Tora Sudiro) adalah sentral di “Nagabonar Jadi 2” yang diproduksi tahun 2007 lalu.

Di “Nagabonar Jadi 2”, saya menyaksikan sisa-sisa heroisme Nagabonar ketika ia terus menghormat pada patung Jenderal Sudirman di Jalan Sudirman Jakarta. Sekarang…kapan lagi kita mengingat Sudirman, jenderal rakyat yang memberi landasan bagi organisasi Tentara Nasional Indonesia (TNI) itu. Di film ini, Bonaga berjibaku dengan nuraninya tatkala berada di persimpangan jalan antara menjual tanah leluhur–antara lain ada makam sang ibu (Kirana) dan pamannya (Bujang)—di Lubuk Pakam atau melanjutkan kapal bisnisnya.

Bonaga adalah potret manusia kini, digerus modernitas dan sambil lalu mulai melupakan akar. Untunglah Bonaga punya Nagabonar, bapaknya yang masih setia dengan identitas dan mengapit masa lalu bak mendekap masa depan. Meskipun tertatih-tatih melihat Indonesia (baca: Jakarta yang diterpa modernitas), Nagabonar masih sanggup “menyelamatkan” Bonaga dari “kacang lupa pada kulitnya”. Pria mana di dunia ini yang sanggup menjual tanah leluhur, apalagi di atasnya ada makam orangtua?

Indonesia pasti terpotong jika generasi muda sekarang hanya menyaksikan Tora Sudiro atau Wulan Guritno di “Nagabonar Jadi 2”. Karena itu, amatlah tepat jika Deddy Mizwar merilis kembali “Nagabonar” sebagai tawaran kepada bangsa Indonesia—yang tengah merayakan seabad Kebangkitan Nasional—untuk melihat Indonesia dari jalan lain; teropong jebolan pencopet yang patriotis di zamannya.

Dari otak sebelah mana kita bisa menebak, pencopet bisa menolak jabatan Marsekal Medan—pangkat tertinggi di medan pertempuran. Ketika ditawarkan jabatan itu, ia justru menawarnya. Ia minta jabatan “Marsekal Medan-Lubuk Pakam” saja, sebuah celotehan yang sungguh-sungguh tak biasa. Akhirnya, jabatan Nagabonar pun diturunkan oleh Lukman (tokoh yang diceritakan paham sejarah militer dunia) menjadi “Jenderal” dan diterimanya. Celotehan yang sesungguhnya menembak orang banyak saat ini yang lebih suka bertengkar memperebutkan jabatan, bahkan untuk status bernama WAKIL RAKYAT.

Nagabonar kocak, tapi ia tak kurang cerdasnya. Ia adalah tipikal pemimpin yang dilahirkan. Karena semangat zaman (zeit geist) memintanya, ia memanggul tugas di pundak sebagai sekelompok sipil yang bermimikri menjadi cikal-bakal satuan militer melawan penjajah Belanda. Lihatlah saat Nagabonar berunding dengan Belanda di sebuah pedalaman Sumatra Utara. Ia diminta menunjukkan posisi pasukannya. Berkali-kali ia diminta Belanda, tapi ia selalu banyak akal untuk mengelak. Beberapa bagian (khususnya cara dia memandang dunia) mengingatkan saya pada tokoh utama film “Life is Beautiful”, yang kendatipun dalam tahanan Nazi, tetap bisa rileks dan optimistis.

Sembari mengomandoi perang lawan tentara Belanda, bibir Nagabonar tak lupa mengumandangkan seruan-seruan patriotis:

Hai Pemuda Indonesia
Bangkitlah kau semua
Negeri kita sudah merdeka
Genderang perang sudah berbunyi
Dengarkan panggilan Ibu Pertiwi

Saya tak ingin menyelesaikan bentuk nasionalisme semacam apa yang sebetulnya dikampanyekan Nagabonar!!! Sebab saya ingin mengajak Anda sekalian untuk menambahkan dua atau tiga paragraf apa sesungguhnya pokok seruan Nagabonar—yang diperankan secara total oleh Deddy Mizwar dalam film terbaik festival film Indonesia tahun 1987 tersebut…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: