Merah Putih, Teruslah Kau Berkibar

Saya bisa merasakan kekesalan sejumlah pencinta bulutangkis yang tidak kebagian tiket pertandingan Indonesia-Thailand di arena Piala Thomas yang dihelat di Gedung Istora Senayan, Jakarta, Minggu (11/5) lalu. Pasalnya, sedari rumah mereka meneguhkan tekad mendukung Taufik Hidayat Cs menyabet kembali lambang supremasi bulutangkis dunia. Seperti mereka yang menonton dari dekat perjuangan Tim Thomas, mereka yang tak kebagian tiket itu ingin menjadi “pemain kedelapan” yang berjasa bagi kejayaan Indonesia di satu-satunya cabang olahraga yang membikin Indonesia seharum Brazil di cabang sepakbola.

Sudah dimaklum, penonton dan riuh-rendah yang ditimbulkannya adalah bagian yang harus ada dalam setiap pertandingan olahraga. Tanpanya, sebuah perhelatan bak sayur tanpa garam atau bahkan seperti adu tangkas gajah yang tak menguras adrenalin. Seperti sang atlet yang berlaga, penonton adalah pesona dan sekaligus faktor yang menentukan hasil akhir pertandingan.

Apa yang terlintas di benak ketika Tim Thomas Indonesia bertemu Malaysia? Atau Tim Sepakbola Brazil berlaga dengan Tim Argentina misalnya? Pastilah sebuah “peperangan” di dalam dan di luar pertandingan. Sungguh gengsi terlibat di sana dan di atas segalanya sejarah menautkan negara-negara tersebut untuk “rawe-rawe rantas, malang-malang putung”. Di situ pertandingan olahraga jauh lebih menarik perhatian, bahkan dibandingkan pidato presiden negeri adidaya.

Mei 2008 ini mengingatkan saya dengan momen sama, 14 tahun lalu. Juga di Gedung Istora Senayan, Indonesia jadi tuan rumah perhelatan Thomas dan Uber Cup. 1994 adalah periode keemasan Indonesia setelah era Rudi Hartono dan Liem SwieKing. Di tunggal putra, negeri ini punya Haryanto Arbi, Ardy B Wiranata, Alan Budikusuma, Hermawan Susanto dan si komplet Joko Suprianto. Di sektor ganda putra, ada Bambang Suprianto, Gunawan, Ricky Subagja, dan Rexy Mainaky. Masih lekat di ingatan ketika dua tahun sebelumnya, Susi Susanti dan Alan Budikusuma membuat merah putih berkibar di Olimpiade Barcelona, 1992. Dua keping emas yang disabet dua sejoli itu menjadi awalan dari tradisi emas Indonesia di cabang bulutangkis Olimpiade.

Di samping Piala Thomas dan Piala Uber, emas olimpiade kini menjadi penawar dari masa suram kehidupan bangsa ini—yang dalam kata-kata R. Ngabehi Ranggawarsita disebut tengah dililit kala bendu, sebuah zaman di tepi jurang kehancuran. Bulutangkis boleh dibilang satu-satunya yang membuat kita berdiri tegak sebagai bangsa, dan tak perlu lagi memetik sepenggal syair Taufiq Ismail “Malu Aku Jadi Orang Indonesia”. Kita pantas bangga, sebab sejak digelar pertama kali tahun 1940-an silam Indonesia menggondol Piala Thomas 13 kali—sebuah raihan yang belum sanggup diimbangi dua raksasa bulutangkis seperti Cina dan Malaysia.

Saya ikut lebur dalam perjuangan Haryanti Cs ketika menamatkan perlawanan Rashid Sidek Cs dari Malaysia di final Piala Thomas 1994. Menempuh ratusan kilometer dari sebuah kota kecil di ujung timur Jawa, saya duduk bersesakan dengan puluhan ribu pecinta bulutangkis yang memadati Istora Senayan. Kala itu sistem pertandingan masih kolot. Untuk memenangkan satu set, seorang pemain harus mengumpulkan 15 angka. Itu pun harus diperoleh dengan service sendiri—beradu punggung dengan sekarang, di mana satu angka bisa dipungut setiap saat jika mampu menaklukkan pukulan lawan.

Semangatnya tentu sama, ingin menyaksikan merah putih berkibar—seperti diteriakkan Kikan, vokalis Coklat yang menorehkan lagu “Bendera” yang patriotis belasan tahun kemudian. Resapilah sejumlah bait lagu itu, agar kita sampai mereguk sebuah “Indonesia” hingga sumsum tulang.

biar saja ku tak seindah matahari
tapi selalu ku coba tuk menghangatkanmu

biar saja ku tak setegar batu karang
tapi selalu ku coba tuk melindungimu

biar saja ku tak seharum bunga mawar
tapi selalu ku coba tuk mengharumkanmu

biar saja ku tak seelok langit sore
tapi selalu ku coba tuk mengindahkanmu

ku pertahankan kau demi kehormatan bangsaku
ku pertahankan kau demi tumpah darah
semua pahlawan-pahlawanku

merah putih teruslah kau berkibar
di ujung tiang tertinggi di Indonesiaku ini

“Bendera” Coklat menyambungkan saya dengan apa yang disebut nasionalisme kendatipun sungguh amat simbolik. Tapi, manakala dibenturkan dengan kondisi mutakhir, terus terang saya tak cukup punya kebanggaan pada nation state ini. Lebih-lebih kepada pemerintah yang hanya pintar berbicara dan lalu tak menepati janji-janjinya.

Berkali-kali presiden, wapres, menteri ESDM hingga menteri keuangan berucap harga bahan bakar minyak (BBM) tak akan dinaikkan hingga 2009. Tapi, mana kala gelombang kenaikan harga minyak mentah tak tertangguhkan, setiap janji para pejabat tinggi itu lepuh. Mereka dicatat sejarah sebagai pemimpin yang pandai berbohong. Setiap kata yang diucapkan (karena berdampak pada publik luas) seyogyanya ditimbang dengan seksama dan meneropong geopolitik dan ekonomi global. Perubahan drastis di tingkat global memahamkan saya bahwa harga BBM tak mungkin dibiarkan tanpa dinaikkan! Namun, sungguh sulit memaafkan janji-janji pepesan kosong para pejabat kita.

Rakyat negeri ini sekarang murung lantaran ketidakpastian yang menyelinap di balik kata-kata para pejabat kita. Mereka murka, dan karenanya berunjuk rasa di seantero nusantara menolak kenaikan harga BBM. Bukan tak mungkin mereka menumpahkannya di Pemilu 2009 nanti.

Barangkali sebagian yang geram itu mencari pelarian pada Tim Thomas dan Tim Uber yang tengah berjuang di Istora Senayan. Biar pun Tim Thomas 2008 secara kualitas jauh di bawah Haryanto Arbi 1994, pecinta bulutangkis berharap Taufik Hidayat, Sony Dwi Kuncoro, Simon Santoso, Markis Kido/ Hendra Setiawan, Joko Riyadi/Hendra Aprida Gunawan hingga Candra Wijaya/Nova Widianto memeras keringat hingga detik terakhir untuk memboyong Thomas Cup untuk kali ke-14.

Harapan yang lebih mirip eskapisme barang kali. Tapi, kenapa tidak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: