Archive for Nasionalisme

EURO 2008 telah datang

EURO 2008 telah datang, sihirnya tidak kalah dibandingkan dengan piala dunia 2006, berbagai media menyambutnya dengan gegap gempita. Hiburan bagi semua orang termasuk orang pinggiran. Sebuah coretan untuk menyambut kehadirannya. )

Leave a comment »

Daftar Beasiswa untuk pelajar Indonesia tahun 2008

Beasiswa LippoBank 2008 untuk lulusan SLTA

Mei 25, 2008

Bank Lippo kembali menawarkan program beasiswa bagi siswa lulusan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas yang ingin melanjutkan kuliah s1 di perguruan tinggi di Indonesia. Beasiswa ini meliputi biaya kuliah, tempat tinggal, akses internet, komputer, hingga biaya penelitian di tingkat akhir.

Read the rest of this entry »

Leave a comment »

Korupsi – Kenali dan Jauhi

Index Korupsi Dunia

Korupsi (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere = busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok) menurut Transparency International adalah perilaku pejabat publik, baik politikus|politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.

Read the rest of this entry »

Leave a comment »

Merah Putih, Teruslah Kau Berkibar

Saya bisa merasakan kekesalan sejumlah pencinta bulutangkis yang tidak kebagian tiket pertandingan Indonesia-Thailand di arena Piala Thomas yang dihelat di Gedung Istora Senayan, Jakarta, Minggu (11/5) lalu. Pasalnya, sedari rumah mereka meneguhkan tekad mendukung Taufik Hidayat Cs menyabet kembali lambang supremasi bulutangkis dunia. Seperti mereka yang menonton dari dekat perjuangan Tim Thomas, mereka yang tak kebagian tiket itu ingin menjadi “pemain kedelapan” yang berjasa bagi kejayaan Indonesia di satu-satunya cabang olahraga yang membikin Indonesia seharum Brazil di cabang sepakbola.
Read the rest of this entry »

Leave a comment »

Nagabonar dan Nasionalisme

Saya keluar dari keletihan luar biasa yang menghimpit dada Ahad lalu (18/5). Sekonyong-konyong kaki saya melangkah ke bioskop di bilangan Jakarta Selatan. Ada tiga film nasional di sana. Mayoritas film “bergenre” remaja—apalagi kalau bukan mengeksploitasi kehidupannya, tak jauh-jauh dari kisah cinta picisan dengan biduan ayu sebagai daya tarik. Para penonton itu—sebagian besar berpasangan—datang ke gedung bioskop dengan 1001 alasan.
Read the rest of this entry »

Leave a comment »